<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118</id><updated>2012-02-16T15:10:35.556-08:00</updated><category term='sejarah'/><category term='metode sejarah'/><category term='Motivasi'/><category term='Kronik'/><category term='nasionalisme'/><category term='Renungan'/><title type='text'>Aseng's Blogspot.Com</title><subtitle type='html'>BELAJAR DARI MASA LALU, CERMINAN SAAT INI, GUNA MENATAP MASA DEPAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-8002909715605092956</id><published>2011-12-27T01:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T01:25:45.344-08:00</updated><title type='text'>Kedudukan, Fungsi dan Kelembagaan Pers di masa Pergerakan Nasional</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pengertian dan Fungsi Pers &lt;/b&gt;Pers mempunyai dua pengertian umum, dalam arti sempit pers diartikan terbatas pada surat kabar (Harian, Mingguan) dan Majalah saja atau pada umumnya yang tercetak dan diterbitkan. Sedangkan dalam arti luas, maka pers itu mencakup Radio, Televisi dan Film, bahkan saat ini media Internet masuk dalam kategori tersebut. Tentang pers tersebut I. Taufik (1997:8) merumuskan sebagai berikut : Pengertian yang umum tentang pers ialah usaha-usaha dari alat-alat komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan anggota-anggota masyarakat akan penerangan hidup atau keinginan mengetahu peristiwa-peristiwa atau berita-berita yang telah/akan terjadi di sekitar mereka khususnya dan di dunia umumnya, biasanya berwujud dalam bentuk surat kabar, majalah, buletin-buletin, kantor-kantor berita, dan lain-lain media tercetak atau diusahakan melalui radio-radio, televisi, film dan lain sebagainya. Menurut UU Nomor 40 tahun 1999 ketentuan tentang Pers pada pasal 1 huruf a disebutkan Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyampaikan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis sarana yang tersedia. Memperhatikan pasal undang-undang di atas, pengertian pers dipahami dalam arti yang luas. Sebaliknya, apabila mengacu pada konteks pers di masa Pergerakan Nasional, pers didasarkan pada arti sempit, di mana pers saat itu tidak termasuk radio, televisi dan film, bahkan internet. Bertolak dari pandangan tersebut maka dalam karya ilmiah ini peneliti membatasi diri hanya kepada pengertian pers yang sempit, jadi hanya mencakup surat kabar (koran), buletin-buletin dan majalah-majalah.Dalam kenyataannya pers mempunyai tiga fungsi utama dimasyarakat, yakni: (1) memberikan informasi; (2) memberikan hiburan; dan (3) melaksanakan kontrol sosial.(Dja'far,1983)  Senada dengan hal tersebut , dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers pada pasal 3 ayat (1) rnenyebutkan Pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Sedangkan peranan pers di dalarn pasal 6 UU yang sama digambarkan sebagai peran untuk: a. memenuhi hak rakyat untuk mengetahui, b. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghorrnati kebhinekaan, c. mengemukakan pendapat umum, berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar, d. memberikan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Dari definisi fungsi di atas yang disesuaikan dengan konteks sejarah pada periode pergerakan nasional, pers pada dapat dilihat dari fungsinya sebagai: a. media pemberi informasi; b. media kontrol sosial; c. media untuk mempengaruhi pendapat publik; dan d. media untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran.  Mengacu pada fungsi-fungsi pers di masa pergerakan nasional, pers dapat dipandang memberi kontribusi pada pengerkembangan gerakan nasional saat itu. Sedangkan pengaruh pers di masyarakat memiliki hubungan timbal balik antara pers dan masyarakat. Secara timbal balik pers dan masyarakat saling pengaruh dan mempengaruhi. Pers adalah salah satu lembaga sosial dan merupakan bagian dari sub-sistem sosial lainnya yang saling terkait. Bahwa pers mempunyai pengaruh yang kuat dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Hal ini pulalah yang dilihat korelasinya dalam penelitian ini.&lt;b&gt;Kedudukan dan Peran Pers dalam Masyarakat Hindia Belanda&lt;/b&gt; Pers merupakan bagian integral dalam masyarakat. Hal ini berlaku universal di seluruh penjuru dunia. Salah satu ciri utama peradaban adalah kemampuan manusia untuk mengabadikan pikiran, perasaa, ide, gagasan, dan segala macam bentuk hasil akal budinya ke dalam tulisan. Pers adalah bentuk lanjut dan pengembangan dari adanya tulisan. Pers juga penanda peradaban sebuah negara. Kedudukan pers di masyarakat merupakan bagian atau subsistem dari sistem yang lebih besar, yaitu sistem komunikasi. Sistem komunikasi sendiri merupakan bagian atau subsistem dari sistem yang lebih besar, yaitu sistem masyarakat yang dilayaninya. Suatu sistem komunikasi sebenarnya terkandung atau inheren dalam setiap sistem masyarakat. Corak atau sistem komunikasi dalam sebuah masyarakat selalu dipengaruhi oleh corak, bentuk, dan keragaman masyarakat itu sendiri. (Rachmadi, F. (1990).  Menurut F. Siebert (1986:21)”To see the social system in their true relationship to the press, one has to look at certain basic beliefs and assumption which the society and the state, the relations of the state and the nature of knowledge and truth”.  Sistem pers selalu dilihat terkait dengan hubungannya dengan sistem sosialnya. Sistem sosial ini sangat erat kaitannya dengan sistem pemerintahan. Sistem pers tidak dapat melepaskan hubungannya dengan sistem sosial dan sistem politik. Hubungan pers dengan pemerintahan dan masyarakat di manapun tidak dapat dihilangkan. Sistem pers tersebut tidak dapat terlepas dari pengaruh pemikiran atau filsafat yang mendasari sistem masyarakat dan sistem pemerintahan, di manapun pers itu berada atau beroperasi.Berdasarkan kedudukannya di atas, bahwa pers di tengah masyarakat mempunyai fungsi utama dalam memberikan informasi, media untuk mempengaruhi pendapat publik, melaksanakan kontrol sosial, media untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran, serta media hiburan. Pers pun memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan negara, juga bagi masyarakatnya. Pers dapat menjadi sarana penyebaran informasi yang sangat efektif, menumbuhkan kesadaran serta motivasi tentang program pembangunan masyarakat, serta sebagai penyalur aspirasi, pendapat, serta kritik atau dengan kata lain sebagai alat kontrol sosial.Mengacu pada kedudukan, fungsi dan peran pers dimasyarakat, fungsi informasi dan media untuk mengembangkan nilai-nilai baru ditengah masyarakat bumiputra adalah tujuan pokok setiap penerbitan pers pergerakan nasional. Pers pergerakan banyak memberikan kontribusi pada usaha-usaha kaum pergerakan dalam mengembangkan ide atau gagasan dalam menyebarkan kesadaran nasional di masyarakat secara lebih luas. Nilai-nilai baru yang oleh masyarakat Indonesia dipandang sebagai suatu pencerahan dalam menemukan bentuk perlawanan selama ini. Nilai-nilai baru itu terbentuk atas dorongan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat pada, yang pada akhirnya melahirkan suatu perasaan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa. Bersambung .....(AK)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-8002909715605092956?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/8002909715605092956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/12/kedudukan-fungsi-dan-kelembagaan-pers.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8002909715605092956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8002909715605092956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/12/kedudukan-fungsi-dan-kelembagaan-pers.html' title='Kedudukan, Fungsi dan Kelembagaan Pers di masa Pergerakan Nasional'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-6284585939943616280</id><published>2011-07-21T07:25:00.001-07:00</published><updated>2011-07-21T07:25:40.047-07:00</updated><title type='text'>ELANG</title><content type='html'>&lt;p&gt;Di sebuah lereng bukit teronggok sarang burung elang. Di sarang itu ada tiga bitir telur yang sedang dierami induknya. &lt;p&gt;Suatu hari terjadi goncangan kecil. Tapi cukup membuat telur-telur itu berubah posisi. Ada satu yang jatuh menggelinding ke bawah. Sang induk elang tak menyadari hal itu. &lt;p&gt;Untunglah telur yang jatuh itu cukup kuat. Telur itu terus menggelinding hingga kemudian masuk ke dalam sangakr ayam. Bergabung dengan telur-telur ayam yang sedang dierami. Induk ayam pun tak sadar bahwa ada “imigran gelap” yang menyusup ke sarangnya. &lt;p&gt;Beberapa saat kemudian menetaslah telur-telur itu. Termasuk telur elang. Keluarlah seekor anak elang yang gagah. Makhluk kecil ini tentu saja berbeda dengan anak-anak ayam yang lain. Tapi, induk ayam tak ambil peduli. Begitu juga anggota keluarga ayam lainnya. &lt;p&gt;Anak elang itu pun tumbuh dan berkembang bersama anak-anak ayam. Lingkungannya lingkungan ayam. Budayanya budaya ayam. Si elang kecil itu percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai sangkar dan induk ayam. &lt;p&gt;Namun, suatu ketika melihat di angkasa raya ada beberapa elang besar sedang terbang merentangkan sayapnya. Indah. Gagah. Berwibawa. Si anak elang kagum atas apa yang dilihatnya. Tanpa sadar ia berkata “ “Oh, andai saja aku bisa terbang seperti burung-burung gagah itu!”. &lt;p&gt;Anak-anak ayam lain mendengar. Mereka tertawa mencericit. &lt;p&gt;“Ha ha ha ….. Kamu tidak akan bisa terbang seperti mereka,” tukas seekor anak ayam bernada ejekan. &lt;p&gt;“Kita ini ayam. Ayam tidak bisa terbang, tahu!” kata anak ayam yang lain. &lt;p&gt;Tawa anal-anak ayam itu meledak. Suaranya memenuhi telinga si elang kecil. &lt;p&gt;Terpojok. Diam. Tertunduk. Elang kecil itu kembali mendongak, menatap nanar langit.”Oh, andai saja …” kalimatnya terputus. &lt;p&gt;Kasihan. Elang kecil itu tidak tahu bahwa yang di atas sana adalah keluarganya yang sejati. Ia Elang, bukan ayam. Tapi, setiap kali mengungkapkannya ingin bisa terbang. Si anak elang selalu dinasehati itu hal mustahil untuk dilakukan. Terus menerus keluarga ayam mengatakan hal itu. Masyarakat ayam pun mengajari si Elang bahwa ia tidak mungkin mengepakan sayap di angkasa  &lt;p&gt;Waktu pun terus bergulir. Si Elang berhenti bermimpi. Tak tahan menerima penolakan lingkungannya. Ia melanjutkan hidup sebagai ayam. Ia menjalani dengan perasaan menderita. Si Elang pun mati dengan memenjara impian besarnya. &lt;p&gt;Teman, kisah di atas hanyalah sebuah amsal tentang harapan dan impian kehidupan. Begitu banyak asa dan hasrat harus pupus karena hilangnya rasa percaya dalam kalbu. Hilang karena tak percaya dengan semua kemampuannya yang kita miliki. &lt;p&gt;Teman, kita adalah Elang kecil itu. Kita Elang kecil yang lahir dalam buaian. Padahal kita adalah manusia-manusia hebat yang sarat potensi. Allah menjamin hal itu. Tapi saying, seringkali rasa percaya diri kita begitu kecil. Kita tidak yakin bahwa kita mampu. Kita tidak yakin bahwa kita bisa. &lt;p&gt;Teman, siapapun kita, yakinlah, selalu ada kelebihan yang Allah berikan pada kita. Jangan tutupi kelebihan itu dengan kabut ketakutan yang pekat. Jangan biarkan kabut itu menutupi cahaya yang diberi-Nya. Kita bisa menjadi apa yang kita percayai. Saat kita bermimpi menjadi “elang”, genggamlah impian impian tadi. Abaikan nasihat “ayam-ayam” itu. Karena, siapa tahu kita memang “elang” harus mengepakkan sayap di angkasa. &lt;p&gt;Jadi, biarkan harapan-harapan itu terpancang menjulang setinggi langit. Allah Maha Tahu yang terbaik buat hamba-Nya. Dia selalu punya rahasia untuk membuktikannya. Nah, teman selamat mencoba. Allah menyertaimu.(AK 2008)&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-6284585939943616280?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/6284585939943616280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/07/elang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/6284585939943616280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/6284585939943616280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/07/elang.html' title='ELANG'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-3403173142458127883</id><published>2011-03-22T01:31:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T01:40:14.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kronik'/><title type='text'>Pengaruh Angin sehingga Menjadikan Selat Malaka Sebagai Pintu Gerbang Dunia</title><content type='html'>Selat Malaka merupakan selat yang mempunyai arti penting baik pada jaman dahulu maupun sekarang. Selat Malaka memisahkan Indonesia dengan daratan Asia terbentuk pada waktu berakhirnya kala pleistosen atau jaman es. Dahulu Selat Malaka merupakan bagian rendah dari Dangkalan Sunda, yaitu daratan yang menghubungkan Indonesia bagian barat dengan Asia Tenggara Kontinental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian laut yang memisahkan Pulau Sumatera dengan Jasirah Malaka yang sebenarnya adalah bagian dari daratan Asia, terkenal dengan nama Selat Malaka. Bentuk Selat itu menyerupai corong atau terompet yang membujur dari arah barat laut ke tenggara. Di bagian barat laut Selat Malaka mempunyai ukuran yang lebar, seperti mulut sebuah corong. Makin ke arah tenggara, makin menyempit dan pada ujungnya hanya selebar seperlima dari corongnya. Selat Malaka itu panjang tetapi tidak dalam, sekitar 40 meter dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka perdagangan dunia, pada jaman dahulu para pelayar sudah mengenal Selat Malaka. Sejak kapan Selat Malaka mulai digunakan untuk pelayaran tidak dapat diketahui dengan pasti. Arus perpindahan bangsa-bangsa pada jaman pra-sejarah dari daratan Asia Tenggara di Indonesia dan sebaliknya niscaya melewati Selat Malaka. Demikian pula pelaut-pelaut bangsa Indonesia dalam pelayarannya ke Madagaskar akan menggunakan jalur Selat Malaka. Sampai seberapa jauh Selat Malaka disebut-sebut dalam literatur dunia pelayaran pada jaman dahulu, belum dapat diketahui dengan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman sekarang selat Malaka ramai dilayari kapal dan perahu. Sejak jaman dahulu pun Selat Malaka sudah dilayari kapal, tetapi jumlahnya tentu tidak sebanyak sekarang. Bagi dunia pelayaran di Indonesia pada jaman pra-sejarah itu, faktor angin memegang peranan menentukan. Bangsa Indonesia sejak dahulu sudah menyadari pentingnya angin bagi kehidupan maritim. Di dalam khasanah bahasa Indonesia terdapat cukup banyak istilah yang berkenaan dengan angin yang mempunyai hubungan langsung dengan kehidupan pelayaran seperti angin buritan, angin haluan, angin turutan, angin sakal, angin paksa, angin ekor burung, angin timba ruang, angin darat, angin laut, dan sebagainya. Demikian pula terdapat istilah negeri "di atas angin", yang dimaksudkan ialah India, Iran, Arab, Eropa, dan Magribi; sedangkan negara-negara yang terletak di sebelah timur Indonesia dinamakan negara-negara "di bawah angin". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian letak Indonesia di antara Australia dan Asia mempunyai pengaruh besar terhadap sistem angin. Pergantian musim di salah satu benua akan mempunyai akibat yang besar mengenai jalannya angin. Apabila di Asia dan Eropa datang musim dingin pada bulan Desember sampai Februari, maka akan berembus angin barat ke arah timur, karena benua Australia yang bermusim panas itu tekanan udaranya menjadi berkurang. Sebaliknya apabila musim dingin di Australia, maka berembus angin-timur ke arah barat, karena tekanan udara di Asia dan Eropa menjadi berkurang akibat musim panas di sana. Di Indonesia karena itu tiap setengah tahun terjadi pergantian musim dengan perubahan arah angin. Kesemuanya ini sebagai akibat dari pergeseran matahari yang di dalam waktu satu tahun bergerak di antara 23 1/2 0 Lintang Utara dan Lintang Selatan, karena adanya revolusi dan rotasi pada bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu para pelaut sudah mengenal perubahan angin musim di sekitar Selat Malaka itu. Dalam bulan Oktober kapal-kapal mulai diberangkatkan dari pelabuhan-pelabuhan di Maluku menuju arah barat seperti : Ujungpandang, Gresik, Demak, Banten dan Malaka. Sedangkan pada bulan Maret kapal-kapal mulai berlayar ke arah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Juni sampai Agustus di Laut Cina Selatan bertiup angin ke utara. Karena itu kapal-kapal mulai bergerak dari Malaka ke pelabuhan-pelabuhan di sebelah utara seperti Ayuthia, Campa, dan Cina. Mulai bulan September arah angin makin menjurus ke selatan, dan pada bulan itu pula kapal-kapal diberangkatkan menuju selatan, pulang ke Malaka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya sistem angin musim yang berganti tiap enam bulan itu, maka kepulauan Indonesia, terutama bagian baratnya dengan Selat Malaka sebagai intinya mempunyai kedudukan yang istimewa. Justru di Selat Malaka inilah tempat bertemunya kapal-kapal, karena itu tidak perlu diherankan mengapa di tepi Selat Malaka itu berdiri bandar-bandar, yang menjadi pusat perdagangan internasional. Posisi geografis ini mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya dan mempunyai akibat yang baik untuk perkembangan perdagangan dan lalu lintas melalui laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malaka kapal-kapal dari berbagai penjuru datang berkumpul sambil menunggu angin yang baik untuk memulai perjalanan ataupun berlayar pulang ke negara asal. Mula-mula kota Malaka hanya merupakan salah satu bandar di antara bandar-bandar di tepi pantai itu. Baru setelah berkembang beberapa waktu, sejak sekitar tahun 1400, kota Malaka tumbuh menjadi bandar terpenting dan pusat kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang angin musim barat dan angin musim timur di Indonesia rupanya sudah lebih dahulu diketahui oleh para pelaut. Karena itu hubungan pelayaran melalui Selat Malaka ke arah barat, yaitu ke India, Persia, dan Timur Tengah, sudah ada lebih dahulu daripada hubungan ke utara, yaitu dengan negara Cina. Rupanya jalan pelayaran ke Cina dari Selat Malaka lebih kemudian diketahui. Hal ini juga disebabkan karena komunikasi perdagangan Cina dengan dunia luar, terutama dengan dunia Barat dahulu lebih banyak melalui daratan daripada melalui lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad-abad kemudian, orang makin yakin perlunya dan pentingnya peranan Selat Malaka. Para pengusaha baik dari Indonesia, maupun luar seperti orang Barat, sudah sadar, bahwa barang siapa menguasai Selat Malaka akan mempunyai peluang yang besar untuk menguasai jalan pelayaran internasional. yang terbentang dari Venesia di Barat hingga Maluku di Timur.&lt;br /&gt;(AK-dari berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-3403173142458127883?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/3403173142458127883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/03/pengaruh-angin-sehingga-menjadikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3403173142458127883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3403173142458127883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2011/03/pengaruh-angin-sehingga-menjadikan.html' title='Pengaruh Angin sehingga Menjadikan Selat Malaka Sebagai Pintu Gerbang Dunia'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-4177960395555203246</id><published>2010-12-02T07:06:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T07:57:23.401-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>HARGA DIRI BANGSA LAHIR DARI KESADARAN INTELEKTUAL</title><content type='html'>Agus Salim lahir di kota Gadang Sumatera Barat , 8 Oktober 1884. Lagi namanya adalah Masyudul Haq. Ia adalah putri kelima Sultan Muhammad Salim, dibesarkan dalam lingkungan adat Minangkabau yang sangat kuat dalam bidang pendidikan agama.&lt;br /&gt;Agus Salim pernah bekerja sebagai penerjemah pada konsulat kerajaan Belanda di Jeddah pada 1906-1911. kesempatan ini dimanfaatkan Agus Salim untuk memperdalam ilmu agama dan mendapat informasi tentang dunia Islam yang lebih luas. Ia kembali ke tanah kelahirannya dengan menguasai tujuh bahasa, antara lain Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang. Insting politik dan diplomasinya selama bekerja di konsulat membuat cita-citanya memerdekakan bangsa semakin kuat.&lt;br /&gt;Sewaktu syarikat Islam dimasuki unsure-unsur komunis, Agus Salim berhasil menegakkan disiplin partai dari keanggotaan dan pengaruh organisasi politik. Setelah ketua umum SI, HOS Tjokroaminoto wafat, Agus Salim tampil menggantikannya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemikir, Agus Salim terkenal kaya akan ide-ide cemerlang. Menurutnya, tumbuhnya harga diri suatu bangsa berkaitan erat dengan kaum terdidik yang memperoleh peran tertentu karena kesadaran intelek, bukan karena disediakan fasilitas atau kemudahan.&lt;br /&gt;Menurut Agus Salim, harga diri tidak ada artinya dan hanya akan menyesatkan jika tidak didukung oleh kesadaran intelek, hanya akan berdaya guna berdiri di atas kekuatan agama, harga diri, dan kesadaran intelek untuk mencapai tujuan mulia.&lt;br /&gt;Ide cemerlang lainnya, ia ungkapkan ketika ada serangan dari kelompok nasionalis yang menyatakan bahwa Islam merendahkan martabat kaum perempuan. Dalam rapat JIB tahun 1925, ia menjelaskan, tentang kedudukan perempuan yang rendah adalah gejala umum yang terjadi di mana pun, hal ini adalah masalah kultural. &lt;br /&gt;Solusinya adalah juga bersifat kultural. Agus Salim memberikan tiga hal, pertama, pendidikan badan supaya perempuan menjadi subur, kuat, dan sehat, kedua, pendidikan hati supaya bertambah baik budi pekertinya, dan ketiga, pendidikan akal supaya perempuan bertambah kecerdasannya.&lt;br /&gt;Pada kesempatan lain, ia pernah melontarkan pendapat yang berlawanan arus, misalnya pada 1920 ketika api nasionalisme berkobar pada semua pejuang Indonesia, Agus Salim mengemukakan bahwa ada unsur berbahaya jika mengagungkan cinta tanah air bila tanpa kendali.&lt;br /&gt;Bung Karno, menjadi pemimpin terkemuka, pemimpin kaum nasional, pendapat Agus Salim dengan tanggapan lewat ke arah persatuan.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, Agus Salim merupakan pribadi yang santun. Ia tidak mau berpolemik dengan orang lain, termasuk Bung Karno. Ia mengungkapkan bahwa dirinya dengan Soekarno mempunyai banyak persamaan dalam tujuan, yaitu kemuliaan bangsa dan tanah air, dan pada tempat bergerak, yaitu medan perjuangan melawan politik penjajahan.&lt;br /&gt;Agus Salim termasuk pemikir yang produktif dalam menuangkan buah pikirannya, setidaknya ada 35 naskah karangannya yang dihimpun oleh Tim Penyusun Buku Seratus Tahun Agus Salim pada 1994. selain karya orisinal dirinya, Agus Salim juga produktif menerjemahkan karya-karya orang lain, terutama di bidang sastra dan sejarah.   &lt;br /&gt;(AK-dari berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-4177960395555203246?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/4177960395555203246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2010/12/harga-diri-bangsa-lahir-dari-kesadaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/4177960395555203246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/4177960395555203246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2010/12/harga-diri-bangsa-lahir-dari-kesadaran.html' title='HARGA DIRI BANGSA LAHIR DARI KESADARAN INTELEKTUAL'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-359766107526441286</id><published>2010-07-15T03:31:00.000-07:00</published><updated>2010-07-15T03:43:38.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='metode sejarah'/><title type='text'>PENGGUNAAN BAHAN DOKUMENTER DALAM PENULISAN SEJARAH</title><content type='html'>by. A. Kosasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu langkah penting dalam penelitian sejarah adalah sejauhmana pengetahuan mengenali bahan dokumenter sebagai sumber utama dalam penelitiannya. Tidak semua dokumen dapat menjadi sumber sejarah. Dokumen-dokumen yang diperoleh terlebih dahulu harus diklasifikasi dan diuji, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber yang mendukung data sejarah. Yang perlu diingat bahwa tidak cukup hanya satu dokumen dapat mewakili informasi sejarah, tetapi harus ditunjang oleh dokumen-dokumen lain yang bisa dianggap relevan terhadap satu obyek penelitian tertentu.&lt;br /&gt;Penilaian bahan-bahan dokumenter sebagai sebuah data  sejarah tidak hanya dilakukan berdasarkan interpretasi dokumen serta isinya, dalam arti menyangkut bagaimana mengetrapkan konsep-konsep, dan kategori-kategori atau teori. Juga termasuk mempelajari bagaimana menyeleksi, mengenterprestasikan, mengklasifikasi dan menyusunnya berdasarkan kategori kedekatan sumber pada obyek masalah.&lt;br /&gt;Satu perhatian yang pernah menjadi fokus utama seorang pakar sejarah seperti Sartono Kartodirjo (1982:96-122), adalah dengan pendekatan sosiologis yang digunakan didapat bahwa data yang tersedia dalam bahan dokumenter tidak hanya khusus berhubungan dengan penelitian sejarah, akan tetapi dapat digunakan bagi penelitian ilmu kemasyarakatan lain seperti sosiologi dan antropologi. Sejarah yang menggunakan pendekatan sosiologis cenderung lebih menekankan pada segi-segi institusional, struktural, uni-formitas, pola-pola dan tendensi-tendensi umum atau khusus yang menjadi fenomena di masyarakat. Penggunaan bahan dokumenter setidaknya sangat membantu ilmu-ilmu kemasyarakatan termasuk sejarah dalam menyelidiki perkembangan masyarakat di masa lampau.&lt;br /&gt;Setidaknya dapat dibedakan antara ilmu kemasyarakatan dengan ilmu sejarah dalam hal penggunaan sebuah bahan dokumen. Ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia secara langsung dengan melakukan observasi, sedangkan ilmu sejarah mengerjakannya dengan menggali informasi yang disusun berdasarkan fakta-fakta yang didapat dari satu atau lebih dokumen. Perbedaan penting lainnya menyangkut masalah perbedaan perspektif, permasalahan dan prosedur pengolahan dokumen sebagai sebuah sumber. Namun, perbedaan itu tidak akan menjadi halangan bagi kedua ilmu tersebut, sejauh satu sama lainnya saling mendukung kegiatan penelitian masing-masing. Lebih jauh lagi akan terlihat jika kita telah mengetahui cara atau prosedur dalam menggunakan bahan dokumen sebagai bahan penelitian dari kedua cabang ilmu di atas. Prosedur yang membuat generalisasi bahan dokumen oleh ilmu kemasyarakatan, itu berbeda dengan prosedur partikulerisasi yang dilakukan ilmu sejarah, dalam artian ilmu sejarah di sini, yaitu ilmu sejarah yang dilakukan oleh para ”sejarawan kritis”.(Sartono, ibid :97) &lt;br /&gt;Kecenderungan penggunaan bahan dokumenter dalam penelitian yang bersifat kualitatif, saat ini dipandang sebagai satu langkah penting yang banyak dilakukan oleh penelitian ilmu-ilmu sosial, di luar ilmu sejarah. Hal ini disebabkan oleh adanya kesadaran dan pemahaman baru yang berkembang di para peneliti sosial, bahwa banyak sekali data-data yang tersimpan dalam bentuk dokumen dan artefak. Sehingga penggalian sumber data lewat studi dokumen menjadi pelengkap bagi proses penelitian sosial. Bahkan Guba seperti dikutip oleh Bungin (2007) menyatakan bahwa tingkat kredibilitas suatu hasil penulisan sosial sedikit banyaknya ditentukan pula oleh penggunaan dan pemanfaatan dokumen yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa itu Dokumen ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membicarakan lebih lanjut mengenai penggunaan dokumenter dalam penulisan sejarah, maka perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu mengenai konsepsi atau pengertian dari istilah dokumen itu sendiri. Kata dokumen berasal dari bahasa latin yaitu docere, yang berarti mengajar. Pengertian dari kata dokumen ini menurut Louis Gottschalk (1986; 38) seringkali digunakan para ahli dalam dua pengertian, yaitu pertama, berarti sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebalikan daripada kesaksian lisan, artefak, peninggalan-peninggalan terlukis, dan petilasan-petilasan arkeologis. Pengertian kedua diperuntukan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara seperti surat perjanjian, undang-undang, hibah, konsesi, dan lainnya. Lebih lanjut, Gottschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertiannya yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik itu yang bersifat tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis.&lt;br /&gt;G.J. Renier, sejarawan terkemuka dari University College London, (1997; 104) menjelaskan istilah dokumen dalam tiga pengertian, pertama dalam arti luas, yaitu yang meliputi semua sumber, baik sumber tertulis maupun sumber lisan; kedua dalam arti sempit, yaitu yang meliputi semua sumber tertulis saja; ketiga dalam arti spesifik, yaitu hanya yang meliputi surat-surat resmi dan surat-surat negara, seperti surat perjanjian, undang-undang, konsesi, hibah dan sebagainya.&lt;br /&gt;Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2007;216-217) menjelaskan istilah dokumen yang dibedakan dengan record. Definisi dari record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang / lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting. Sedang dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik. Sedangkan menurut Robert C. Bogdan seperti yang dikutip Sugiyono (2005; 82) dokumen merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, karya-karya monumental dari seseorang.&lt;br /&gt;Dari berbagai pengertian di atas, maka dapat ditarik benang merahnya bahwa dokumen merupakan sumber data yang digunakan untuk melengkapi penelitian, baik berupa sumber tertulis, film, gambar (foto), dan karya-karya monumental, yang semuanya itu memberikan informasi bagi proses penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Macam-Macam Bahan dan Jenis Dokumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Burhan Bungin (2008; 122) bahan dokumen itu berbeda secara gradual dengan literatur, dimana literatur merupakan bahan-bahan yang diterbitkan sedangkan dokumenter adalah informasi yang disimpan  atau didokumentasikan sebagai bahan dokumenter.  Mengenai bahan-bahan dokumen tersebut, Sartono Kartodirdjo (2008; 101) menyebutkan berbagai type seperti; otobiografi, surat kabar, surat-surat pribadi, catatan harian, momorial, kliping, dokumen pemerintah dan swasta, serta cerita roman (sejarah). Bahkan untuk saat ini foto, tape, film, mikrofilm, disc, compact disk, data di server / flashdisk, data yang tersimpan di web site, dan lainnya dapat dikatakan sebagai bahan dokumenter.&lt;br /&gt;Dari bahan-bahan dokumenter di atas, para ahli mengklasifikasikan dokumen ke dalam beberapa jenis diantaranya;&lt;br /&gt;Menurut Bungin (2008; 123); dokumen pribadi dan dokumen resmi.&lt;br /&gt;Dokumen pribadi adalah catatan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Berupa buku harian, surat pribadi, &amp; otobiografi.&lt;br /&gt;Dokumen Resmi terbagi dua: pertama intern; memo, pengumuman, instruksi, aturan lembaga untuk kalangan sendiri, laporan rapat, keputusan pimpinan, konvensi; kedua ekstern; majalah, buletin, berita yang disiarkan ke mass media, pemberitahuan.&lt;br /&gt;Menurut Sugiyono (2005; 82), berbentuk tulisan, gambar, dan karya&lt;br /&gt;Bentuk tulisan, seperti; catatan harian, life histories, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan, dan lainnya.&lt;br /&gt;Bentuk gambar, seperti; foto, gambar hidup, sketsa, dan lainnya.&lt;br /&gt;Bentuk karya, seperti; karya seni berupa gambar, patung, film, dan lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Menurut E. Kosim (1988; 33) jika diasumsikan dokumen itu merupakan sumber data tertulis, maka terbagi dalam dua kategori yaitu sumber resmi dan tak resmi&lt;br /&gt;Sumber resmi merupakan dokumen yang dibuat/dikeluarkan oleh lembaga/perorangan atas nama lembaga. Ada dua bentuk yaitu sumber resmi formal dan sumber resmi informal.&lt;br /&gt;Sumber tidak resmi, merupakan dokumen yang dibuat/dikeluarkan oleh individu tidak atas nama lembaga. Ada dua bentuk yaitu sumber tak resmi formal dan sumber tak resmi informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Studi Dokumen dalam Penelitian Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Metode dokumenter merupakan salah satu jenis metode yang sering digunakan dalam metodologi penelitian sosial yang berkaitan dengan teknik pengumpulan datanya. Terutama sekali metode ini banyak digunakan dalam lingkup kajian sejarah. Namun sekarang ini studi dokumen banyak digunakan oleh lapangan ilmu sosial lainnya dalam metodologi penelitiannya, karena sebagian besar fakta dan data sosial banyak tersimpan dalam bahan-bahan yang berbentuk dokumenter. Oleh karenanya ilmu-ilmu sosial saat ini serius menjadikan studi dokumen dalam teknik pengumpulan datanya.&lt;br /&gt;Data dalam penelitian sosial kebanyakan diperoleh dari sumber manusia atau human resources, melalui observasi dan wawancara. Akan tetapi ada pula sumber bukan manusia, non human resources, diantaranya dokumen, foto dan bahan statistik. Studi dokumen yang dilakukan oleh para peneliti sosial, posisinya dapat dipandang sebagai ”nara-sumber” yang dapat menjawab pertanyaan; ”Apa tujuan dokumen itu ditulis?; Apa latarbelakangnya?; Apa yang dapat dikatakan dokumen itu kepada peneliti?; Dalam keadaan apa dokumen itu ditulis?; Untuk siapa?” dan sebagainya.(Nasution, 2003; 86)&lt;br /&gt;Menurut Sugiyono (2005; 83) studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan kredibilitas hasil penelitian kualitatif ini akan semakin tinggi jika melibatkan / menggunakan studi dokumen dalam metode penelitian kualitatifnya. Hal senada diungkapkan Bogdan (seperti dikutip Sugiyono) “in most tradition of qualitative research, the phrase personal document is used broadly to refer to any first person narrative produce by an individual which describes his or her own actions, experience, and beliefs”.  &lt;br /&gt;Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif. Selain itu, di dalam penelitian kualitatif juga dikenal tata cara pengumpulan data yang lazim, yaitu melalui studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka (berbeda dengan Tinjauan Pustaka) dilakukan dengan cara mengkaji sumber tertulis seperti dokumen, laporan tahunan, peraturan perundangan, dan diploma/sertifikat. Sumber tertulis ini dapat merupakan sumber primer maupun sekunder, sehingga data yang diperoleh juga dapat bersifat primer atau sekunder. Pengumpulan data melalui studi lapangan terkait dengan situasi alamiah. Peneliti mengumpulkan data dengan cara bersentuhan langsung dengan situasi lapangan, misalnya mengamati (observasi), wawancara mendalam, diskusi kelompok (Focused group discussion), atau terlibat langsung dalam penilaian.( Djoko Dwiyanto, djoko_dwiy@ugm.ac.id). &lt;br /&gt;Kajian dokumen merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan-bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu obyek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-dokumen tersebut dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang diteliti. Pengumpulan data perlu didukung pula dengan pendokumen¬tasian, dengan foto, video, dan VCD. Dokumentasi ini akan berguna untuk mengecek data yang telah terkumpul. Pengumpulan data sebaiknya dilakukan secara bertahap dan sebanyak mungkin peneliti berusaha mengumpulkan. Maksudnya, jika nanti ada yang terbuang atau kurang relevan, peneliti masih bisa memanfaatkan data lain. Dalam fenomena budaya, biasanya ada data yang berupa tata¬cara dan perilaku budaya serta sastra lisan. (Endraswara, http://fisip.untirta.ac.id/teguh/?p=16/). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Bahan Dokumenter dalam Penulisan Sejarah&lt;br /&gt;Bagi penulisan sejarah sekarang ini, khususnya penulisan sejarah sosiologis yang menggunakan ilmu kemasyarakatan sebagai pendekatannya. Fenomena masa lalu difahami dari gambaran situasi dan kondisi sosial masyarakat pada masa lampau, yang semuanya tidak ada dan tidak dilukiskan dalam bahan-bahan dokumenter. Dengan demikian data historis dari dokumen perlu ditambah penyeleksiannya sesuai dengan perspektif ilmu kemasyarakatan. Sehingga dalam menghadapi bahan dokumenter, penggunaan konstruksi konseptual dan teoritis akan mempertinggi potensi heuristisnya dan dapat diperbaiki metodologinya.&lt;br /&gt;Dalam ilmu sejarah sebuah dokumen sebelum dapat digunakan sebagai data penelitiannya, harus mengalami penyeleksian yang ketat. Dalam ilmu atau metodologi sejarah itu disebut dengan kritisisme historis. Yaitu suatu usaha sejarawan untuk mampu memberikan kritik terhadap nilai sebuah sumber, seperti keasliannya (orisinalitas), bahan, bahkan maksud serta makna sebuah dokumen tersebut dibuat. Kritisisme itu sendiri dibagi menjadi keritik ekstern dan kritik intern. &lt;br /&gt;Metode kritisisme diatas, yang membedakan kembali antara ilmu kemasyarakatan dan ilmu sejarah menyangkut masalah pemakaian bahan dokumenter, adalah bahwa tidak semua tahap dari kritisisme historis perlu dilakukan sendiri dan dapat dibatasi pada segi-segi essensial serta analisa dokumen. Yang oleh ilmu kemasyarakatan disebutnya sebagai kritisisme tekstual, yakni menyelediki originalitas dokomen berdasarkan teksnya, variant-variant tradisional bentuk serta gaya bahasanya. (Sartono, 1982:114).&lt;br /&gt;Dengan demikian kritisime historis terhadap bahan-bahan dokumenter yang masih dianggap perlu oleh ahli ilmu kemasyarakatan adalah: Pertama, analisa isi dari dokumen dan kritisisme interpretatif yang positif, yaitu bagaimana menetapkan maksud dari pembuat dokumen. Dan yang kedua, adalah analisa dari kondisi, yakni dalam kondisi mana dokumen dibuat dan kritisisme negatif tentang dokumen, sehingga dapat diverifikasikan pernyataan-pernyataan yang membuat dokumen itu.&lt;br /&gt;Untuk mempelajarinya lebih jauh isi dari sebuah dokumen, kritisisme tekstual yang pertama akan sangat jauh dalam meneliti sebuah dokumen. Dari langkah pertama akan kita jumpai apa yang disebut dengan menti-fakta, yaitu suatu gambaran awal dari pembuat dokumen tentang fakta di balik itu. Dengan demikian melalui kritisisme interpretatif telah dapat diketemukan suatu segi subyektif sebuah dokumen, ditambah dengan kritisisme intern atau langkah yang kedua lebih lanjut akan dapat mengungkapkan faktor-faktor subyektif yang melekat pada bahan dokumenter. &lt;br /&gt;Penilaian bahan dokumenter atas kegunaannya berdasarkan kriteria yang berhubungan dengan hakekat subyek, komponen-komponen yang essensial, karakteristik, scope waktu serta ruang dari segi subyek itu berada. Dalam penelitian sejarah  dikategorikan sebagai kegiatan menganalisis sumber atau memverifikasi sumber, guna mendapat satu kesahihan fakta yang berada dibaliknya.  Sebagaimana di pahami bahwa kesaksian dalam sejarah merupak faktor paling menentuka sahih atau tidaknya bukti atau fakta sejarah yang didapat dari bahan dokumen. Menurut Gilbert J. Garraghan (dalam Dudung A., 2007:70) kekeliruan saksi pada bukti sejarah ditimbulkan dua sebab. Pertama, kekeliruan dalam sumber informal yang terjadi dalam usaha menjelaskan, menginterpretasikan, atau menarik kesimpulan dari suatu sumber dokumen. Kedua, kekeliruan dalam sumber formal, yang disebabkan karena kekeliruan yang disengaja terhadap kesaksian sebuah dokumen tidak mampu menyampaikan kesaksiannya secara benar dan jujur.&lt;br /&gt;Pada penelitian sosial, cara menganalisa isi dokumen ialah dengan mengetahui  bentuk-bentuk komunikasi yang dituangkan sebuah dokumen secara obyektif. Kajian isi atau content analysis document ini didefinisikan oleh Berelson yang dikutip Guba dan Lincoln, sebagai teknik penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis dan kuantitatif tentang manifestasi komunikasi. Sedangkan Weber menyatakan bahwa kajian isi adalah metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen. Definisi lain dikemukakan Holsti, bahwa kajian isi adalah teknik apapun yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan, dan dilakukan secara objektif, dan sistematis (Moleong, 2007; 220).&lt;br /&gt;Dalam metode sejarah, pembahasan mengenai analisis konten dokumen ini merupakan bagian yang penting yang akan mempertaruhkan kredibilitas hasil penelitian sejarah. Oleh karenanya pembahasan kajian isi ini memiliki segmen khusus dalam pembahasan dan penggunaannya. Adapun yang terpenting dari kajian isi ini berkaitan dengan kritik intern (kredibilitas) dan kritik ekstern (otentisitas) sumber data.&lt;br /&gt;G.J. Renier (1997; 115) mencoba memberikan gambaran mengenai perbedaan kritik intern dan ekstern ini dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang biasa dipakai oleh kedua bentuk kritik tersebut. Dalam kritik ekstern pertanyaan yag dimunculkan berupa; Apakah jejak yang saya yakini ini ada?, Apakah yang diceritakannya kepada saya, dan apa yang dituntutnya itu ada?, Dalam bentuk bagaimana dia menulisnya?,  lalu setelah pertanyaan tersebut coba dikaji dan dianalisis, maka pertanyaan selanjutnya adalah; Dapatkah saya mempercayai pesan yang ada di dalam jejak ini untuk saya pergunakan? Apakah benar-benar kesudahan dari serangkaian peristiwa-peristiwa yang dalam pengamatan pertama, kemunculannya ada? Atau Adakah disekitarnya suatu serangkaian yang kurang jelas?, untuk menjawab pertanyaan tersebut maka diterapkan kritik intern.&lt;br /&gt;Menurut Kuntowijoyo (1995; 99) sederhananya kritik ekstern (masalah otentisitas) itu mencoba mengkaji suatu dokumen untuk membuktikan keaslian sumbernya, yaitu dengan meneliti bagaimana kertasnya, tintanya, gaya tulisannya, bahasanya, kalimatnya, ungkapannya, kata-katanya, hurufnya, dan semua penampilan luarnya, untuk mengetahui otentisitasnya. Jika masalah otentisitas telah diverifikasi, selanjutnya peneliti melakukan uji kredibilitas (kritik intern), apakah dokumen tersebut dapat dipercaya? Hal ini dilakukan dengan cara melakukan komparasi mengenai informasi yang tertuang di dalam dokumen tersebut dengan data lain yang memiliki kesamaan waktu dan tempat peristiwa. &lt;br /&gt;Selanjutnya Kosim (1988; 34) menjabarkan secara detail mengenai kajian isi dokumen dengan kritik ekstern dan intern. Masalah otentisitas dokumen (kritik ekstern) berupaya menjawab tiga pertanyaan penting, yaitu&lt;br /&gt;1.      Apakah sumber tersebut memang sumber yang kita kehendaki? Singkatnya apakah sumber tersebut palsu atau tidak? Bisa dikaji dengan meneliti; tanggal, materi yang dipakai seperti tinta, pengarang, tulisan tangan, tanda tangan, materai, jenis huruf.&lt;br /&gt;2.      Apakah sumber itu asli atau turunan? Di sini digunakan analisis sumber. Jaman dulu cara menggandakan sebuah dokumen dengan menyalin lewat tulisan tangan, berbeda dengan sekarang menggunakan mesin fotocopy dan teknologi komputer dan scanner.&lt;br /&gt;3.      Apakah sumber itu utuh atau sudah berubah? Di sini digunakan kritik teks, seperti yang banyak digunakan para ahli filologi. &lt;br /&gt;Langkah selanjutnya menurut Kosim, melakukan kritik intern yang bertugas menjawab pertanyaan Apakah kesaksian yang diberikan oleh sumber itu kredibel / dapat dipercaya? Langkah-langkah untuk menjawabnya sebagai berikut;&lt;br /&gt;1.     Mengadakan penilaian intrinsik (yang hakiki) terhadap sumber. Dimulai dengan menentukan sifat dari sumber, lalu menyoroti pengarang sumber tersebut.&lt;br /&gt;2.      Komparasi dengan kesaksian dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Penggunaan Bahan Dokumenter dalam Penulisan Sejarah&lt;br /&gt;Sartono (1982:120) menyebutkan beberapa alasan bahan dokumenter diperlukan dalam proses penelitian, seperti: membentuk dan memperbaiki alat konseptual peneliti; menyarankan hipotesa baru; memberikan ilustrasi penelitian; memperoleh fakta baru yang bersifat unik; membuat jembatan antara ilmu pengetahuan dab commons sense; memperhatikan sistem dan metode-metode penelitian yang sesuai; dan memberikan pengawasan fenomena terhada fakta detail dari kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Melihat kegunaanya yang sangat penting dalam, terutama dalam penelitian sejarah. Bahan dokumenter secara umum dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan penelitian sejarah yang lebih komprehensif. Lewat berbagai pendekatan sejarah komprehensif, di mana penggunaan ilmu bantu sejarah seperti ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya.  Penggunaan bahan dokumenter, untuk saat ini diharapkan dapat menambah gairah baru pada penelitian sosial, termasuk penelitian sejarah. &lt;br /&gt;Artinya dorongan untuk melakukan penelitian sejarah yang selama ini mengacu pada kegiatan penggalian sumber-sumber yang bersifat sekunder, yaitu pada bahan-bahan yang tersedia secara langsung dari informasi tertulis. Dengan pengetahuan tentang penggunaan bahan dokumenter, para peneliti sejarah mampu memberikan satu alternatif penelitian yang lebih dalam dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;• Dokumen merupakan sumber data yang digunakan untuk melengkapi penelitian, baik berupa sumber tertulis, film, gambar (foto), dan karya-karya monumental, yang semuanya itu memberikan informasi bagi proses penelitian.&lt;br /&gt;• Untuk saat ini type dan jenis bahan dokumenter tidak terbatas pada otobiografi, surat kabar/majalah, surat-surat pribadi, catatan harian, momorial, kliping, dokumen pemerintah dan swasta, serta cerita roman (sejarah), tetapi juga foto, tape, film, mikrofilm, disc, compact disk, data di server / flashdisk, data yang tersimpan di web site, dan lainnya dapat dikatakan sebagai bahan dokumenter. &lt;br /&gt;• Penggunaan bahan dokumenter setidaknya sangat membantu ilmu-ilmu kemasyarakatan seperti sosilogi dan antropologi, tapi juga membantu dalam menyelidiki perkembangan masyarakat di masa lampau atau sejarah.&lt;br /&gt;• Dalam ilmu sejarah sebuah dokumen sebelum dapat digunakan sebagai data penelitiannya, harus mengalami penyeleksian yang ketat. Tahap dikenal dengan tahapan kritik sumber, yang dilanjutkan dengan tahapan analisis dan interpretasi sumber.&lt;br /&gt;• Fungsi penting bahan dokumenter dalam penulisan diharapkan memberikan konstruksi konseptual dan teoritis yang mempertinggi potensi heuristis dari metodologi sejarah.&lt;br /&gt;• Akhirnya pengetahuan tentang penggunaan bahan dokumenter, untuk saat ini diharapkan dapat menambah gairah baru pada penelitian sosial, terutama penelitian sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ardhana. Teknik Pengumpulan Data Kualitatif.        Tersedia: http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-pengumpulan-data-kualitatif/&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abdurahman, Dudung. 2007. Metodologi Penelitian Sejarah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Gharuty, Fu'adz. 2009  “Studi Dokumen dalam Penelitian Kualitatif”, diapload tgl. 2 Februari 2009. diakses tgl 1 Juni 2009. Tersedia :&lt;br /&gt;http://adzelgar.wordpress.com/2009/02/02/studi-dokumen-dalam-penelitian-kualitatif/ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bungin, M. Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gottschalk, Louis. 1986. Understanding History; A Primer of Historical Method (terjemahan Nugroho Notosusanto). Jakarta: UI Press.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartodirdjo, Sartono. 1982. “Penggunaan Bahan Dokumenter”, dalam Sartono Kartodirjo Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu alternatif. Jakarta: Gramedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosim, E. 1988. Metode Sejarah; Asas dan Proses. Bandung: Jurusan Sejarah UNPAD (untuk kalangan sendiri)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah.  Yogyakarta: Bentang Budaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif.  Bandung: Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renier, G.J. 1997. History its Purpose and Method (terjemahan Muin Umar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif.  Bandung: ALFABETA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-359766107526441286?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://asengkosasih.blogspot.com/feeds/359766107526441286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2010/07/penggunaan-bahan-dokumenter-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/359766107526441286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/359766107526441286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2010/07/penggunaan-bahan-dokumenter-dalam.html' title='PENGGUNAAN BAHAN DOKUMENTER DALAM PENULISAN SEJARAH'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-3279653020905043524</id><published>2009-12-03T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T02:51:14.221-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasionalisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>SEJARAH ETNIS CINA (TIONGHOA) DI INDONESIA</title><content type='html'>Keberadaan Etnis Cina (Tionghoa) pada saat ini di Indonesia, jelas sekali peranannya yang hampir menguasai sector ekonomi negara kita. Untuk mencapai hal tersebut jelas adalah suatu perjuangan panjang bagi mereka.&lt;br /&gt; Sejarah panjang keberadaan mereka di Indonesia berawal pada masa kejayaan Kerajaan Kutai di pedalaman kalimantan, atau Kabupaten Kutai, yang daerahnya kaya akan hasil tambang emas itulah mereka dibutuhkan sebagai pandai perhiasan (Emas).&lt;br /&gt; Karena kebutuhan akan pandai emas semakin meningkat, maka didatangkan eamas dari cina daratan, disamping itu ikut dalam kelompok tersebut adalah para pekerja pembuat bangunan dan perdagangan. Mereka bermukim menyebar mulai dari Kabupaten Kutai, Sanggau Pontianak dan daerah sekitarnya.&lt;br /&gt; Gelombang kedua kedatangan Etnis Cina (Tionghoa) ke Indonesia ialah pada masa kerajaan Singasari di daerah Malaka Jawa Timur sekarang. Kedatangan mereka dibawah armada tentara laut Khubilaikan atau juga sering disebut sebagai Jhengiskan dalam rangka ekspansi wilayah kekuasaannya. Namun utusan yang pertama ini tidaklah langsung menetap, hal ini diakrenakan ditolaknya utusan tersebut oleh Raja.&lt;br /&gt; Pada Ekspedisi yang kedua tentara laut Khubilaikan ke-tanah Jawa dengan tujuan membalas perlakuan raja Singasari terhadap utusan mereka terdahulu, namun mereka sudah tidak menjumpai lagi kerajaan tersebut, dan akhirnya mendarat di sebuah pantai yang mereka beri nama Loa sam (sekarang Lasem) sebagai armada mereka menyusuri pantai dan mendarat disuatu tempat yang Sam Toa Lang Yang  kemudian menjadi Semarang. Masyarakat etnis Cina ini kemudian mendirikan sebuah tempat ibadat  (Kelenteng) yang masih dapat dilihat sampai masa sekarang.&lt;br /&gt; Karena runtuhnya Singasarai dan Majapahit, serta munculnya kerajaan baru yaitu Demak sebagai sebuah kerajaan Islam, maka keberadaan Etnis Cina ini dipakai sekutu Demak di dalam rangka menguasai tanah Jawa dan penyebaran agama Islam. Hal itu dimungkinkan karena panglima armada laut yang mendarat di Semarang, seoarang yang beragama islam, yaitu Cheng Ho.&lt;br /&gt; Mereka kemudian diberi wewenang untuk menjalankan Bandar atau pelabuhan  laut di Semarang dan Lasem. Hal ini oleh Demak dimaksudkan untuk melumpuhkan Bandar-bandar laut yang lain, yang masih dikuasai oleh sisa-sisa  Singasari dan Majapahit seperti bandar laut Tuban dan Gresik.&lt;br /&gt;Berawal dari sanalah kemudian etnis Cina ini menyebar ke seluruh daratan Indonesia dan juga ditambah pendatang baru yang langsung ke daerah-daerah di pelosok nusantara.&lt;br /&gt;Melihat perjalanan panjang kebersamaan mereka tersebut di tanah air, masihkah kita mempertanyakan dan menyangsikan mereka. Atau karena keuletan dan kegigihan mereka yang membuat sekarang menjadi Eksis terutama di dalam bidang perekonomian kita. Hal ini berpulang kepada kita, dalam cara memandang mereka. Akankah kita terus berkutat dengan perasaan miring kepada mereka, atau kita bangkit dan bersaing dengan mereka. Hal tersebut sekali lagi berpulang pada kita semua, dan perlu diingat bahwa mereka yang ada saat ini adalah merupakan keturunan yang kesekian kali dari nenek moyang mereka yang pertama kali datang.&lt;br /&gt;( dari berbagai sumber-AK )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-3279653020905043524?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3279653020905043524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3279653020905043524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2009/12/sejarah-etnis-cina-tionghoa-di.html' title='SEJARAH ETNIS CINA (TIONGHOA) DI INDONESIA'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-6999429915951932929</id><published>2009-09-15T03:39:00.000-07:00</published><updated>2009-09-15T03:44:58.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Memetik Manfaat dari Kritik</title><content type='html'>Banyak di antara kita menjadi jengkel hingga marah ketika dikritik. Kita menganggap kritik sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan kita. Lebih gawat, ada yang karena kritik menjadi kehilangan rasa percaya diri atau tak mampu melakukan hal-hal dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya itu semua tak perlu terjadi. Bila dicermati, kritik biasanya datang dari orang-orang dekat. Misalnya suami, istri, orang tua, atau teman. Mereka umumnya memiliki kepedulian pada kita sehingga tidak akan menjerumuskan. Kita mestinya juga sadar bahwa setiap orang pasti pernah  melakukan kesalahan. Adanya kritik justru mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan lagi. Jika kesalahan sudah terjadi, kritik dapat membantu kita untuk segera memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan dari kesalahan tadi. &lt;br /&gt;Kritik pun bisa kita jadikan cermin. Dalam banyak hal, kita tidak bisa melihat diri kita sendiri. Bahkan yang bersifat fisik. Seperti noda di wajah, kerah baju terlipat, dan lain-lainnya. Sebaliknya orang lain bisa melihatnya. Karena itu kita membutuhkan kritik. Bahkan, orang bijak pun membutuhkan kritik untuk bisa terus menerus memperbaiki diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerima kritik, kita perlu memperhatikan, apakah ada pujian atau sisi positif yang disampaikan si pengkritik. Kita tidak perlu memfokuskan perhatian pada rasa sakit ketika dikritik. Sebaliknya, kita tidak usah terlalu senang karena dipuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kritik bermanfaat, kita tidak boleh puas dengan kritik bersifat umum. Misalnya kritik berupa ketidaksukaan terhadap sikap kita. Kita mesti menanyakan tentang sikap yang dimaksudkannya dan alasan tidak menyukai sikap itu. Pertanyaan bukan untuk menantang, tetapi untuk memastikan kritik itu memang patut atau cuma reaksi berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengarkan kritik, umumnya orang mempertahankan diri, khususnya bila kritik itu tidak adil. Tapi sikap ini justru akan memperburuk keadaan, karena serangan kritik justru semakin gencar. Karenanya, mula-mula kita coba menyetujui kritik itu, tak peduli kritik itu benar atau salah. Dengan cara ini pengkritik lebih tenang dan lebih terbuka berkomunikasi. Dengan demikian hal yang dikritikkan dapat dibicarakan dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kritik disampaikan dengan kasar dan penuh rasa permusuhan. Sebaiknya kita pusatkan pada isinya, bukan cara penyampaiannya. Jika isinya bermanfaat, jangan sia-siakan. Janganlah menolak suatu pengamatan yang bagus, hanya karena penyampaiannya kurang menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kritik bersumber dari orangtua, guru, atasan, atau pejabat berwenang, sebaiknya kita waspada. Tanpa disadari kita justru mengundang koreksi pedas. Karenanya, jika atasan mengkritik kelalaian kita, sebaiknya kita segera menanggapinya dengan perbaikan. Bila tidak, bisa-bisa ia akan mengambil langkah-langkah drastis yang lebih tidak kita harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau selama ini belum pernah mendapat kritik, sebaiknya bersiap-siaplah menerimanya. Ketika kritik itu datang, lebih baik berusaha mengambil manfaatnya ketimbang merasa terganggu atau sakit hati. (AK/dari berbagai sumber - red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang memberi saya, mengajarkan saya untuk memberi”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-6999429915951932929?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/6999429915951932929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/6999429915951932929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2009/09/memetik-manfaat-dari-kritik.html' title='Memetik Manfaat dari Kritik'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-3256200913248689941</id><published>2008-11-13T05:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T06:04:09.778-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kronik'/><title type='text'>JAKARTA KOTE KITE’ NAMENYE DARI MANE</title><content type='html'>Jakarta saat ini merupakan salah satu kota besar di dunia, dapat disejajarkan dengan kota-kota kosmopolitan lainnya. Setiap kota besar didunia mempunyai daerah yang khas atau terkenal.     Sejarah panjang kota Jakarta bermula dari kedatangan  Bangsa Portugis di Sunda Kelapa, yang dipimpin oleh Fransisco De Sa.&lt;br /&gt;            Fatahilah datang merebut Sunda Kelapa Kmudian mengubah namanya menjadi Jayakarta yang artinya kota kemenangan, Kemudian berubah menjadi Jakarta seperti yang kita kenal sekarang .&lt;br /&gt;            Fatahilah lama bermukim di Cirebon, sambil menyebarkan Agama Islam, sampai wafat dan dimakamkan  di Gunung Jati. Lalu apa hubungannya dengan nama desa atau kampung yang ada di Cirebon.&lt;br /&gt;            Di Cirebon ada daerah yang bernama Gunung Sari, yang dari sana bisa melihat keindahan gunung ciremai, mungkin  ini sama dengan nenek moyang orang betawi yang dapat  melihat keindahan  gunung salak  dari daerah gunung sahari, tentunya sebelum Jakarta padat oleh beton bertingkat.&lt;br /&gt;            Dekat gunung sari ada desa yang bernama Cideng yang berarti Ci=air – hideng = Hitam ini mengingatkan kita pada daerah Cideng Jakarta yang juga berair hitam keruh.&lt;br /&gt;            Satu kilometer dari sana ada Kampung Keramat, di timurnya ada desa pegambiran mengingatkan kita pada daerah  Kramat dekat pasar senen dan Stasiun Gambir, ke selatan ada desa cideras yang berarti air deras, sementara di Jakarta ada Kali Deres.    &lt;br /&gt;            Di luar kota Cirebon,ada desa Grogol berdekatan dengan kampong Cangkring sementara di Jakarta Grogol berdekatan dengan Cengkaring.&lt;br /&gt;            Kearah selatan kota terdapat desa pejaten ada pula desa Ciracas yang mengingatkan kita pada Ciracas, nama kampong di dekat cibubur Jakarta Timur .&lt;br /&gt;            Tidak Jauh dari caracas ada desa sreng seng, ketimurnya ada desa ciledug yang berdekatan dengan kampong Ciniru, mengingatkan kita pada daerah elit Jakarta Cinere dan Ciledug di Ciputat.&lt;br /&gt;            Kemudian ada juga kampong lemah abang sementara dijakarta ada Tanah Abang. Berbatasan dengan daerah Jawa tengah ada kecamatan Ciledug dan Juga Losari serta kecamatan pasar minggu.&lt;br /&gt;            Bila terus ke arah Selatan kita menjumpai Kabupaten Kuningan, sementara Kuningan di Jakarta merupakn daerah kawasan san bisnis dan perumahan pejabat Negara.&lt;br /&gt;            Banyaknya kesamaan yang ada, mungkinkah Fatahillah ingin bernostalgia dengan kamungnya, setelah berhasil menguasai Jayakarta, atau memang nama-nama kampong tersebut hanyalah kebetulan bernama sama. (siape yang tahu cing)&lt;br /&gt;            Itu semua ane kembaliin kepada  ente ente sekalian encing, encing, enya, babeh yang sekarang jadi penghuni Jakarta, buat nyari tahu kenapa kok bisa sampe banyak nama kampong di Cirebon. Wassalam&lt;br /&gt;( DARI BERBAGAI SUMBER )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-3256200913248689941?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3256200913248689941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/3256200913248689941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2008/11/jakarta-kote-kite-namenye-dari-mane.html' title='JAKARTA KOTE KITE’ NAMENYE DARI MANE'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-8109620728540857838</id><published>2008-11-03T17:10:00.001-08:00</published><updated>2008-11-03T17:24:36.186-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasionalisme'/><title type='text'>Indonesia dan Rasa Kebangsaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Indonesia tanah air beta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pusaka abadi nan jaya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Indonesia sejak dulu kala&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetap dipuja puja bangsa&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sana tempat lahir beta&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dibuai dibesarkan bunda&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tempat berlindung di hari tua&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sampai akhir menutup mata&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lagu yang indah kalau kita cermati dari tiap kata-katanya...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Akan tetapi dewasa ini sudah terlalu banyak fakta yang justru merusak citra Indonesia sebagai bangsa yang besar, indah dan menyenangkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Terlalu banyak kejahatan yang terjadi di bumi Indonesia, mulai dari penculikan, pembunuhan dengan mutilasi, korupsi, aksi terorisme dan berbagai aksi kejahatan lainnya...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Dimana kita saat semua itu terjadi, ada di luar tidak peduli, ada di luar tetapi mendukung atau malah justru sebagai bagian dari proses kejahatan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saya pikir, tidak perlu berpikir untuk menyalahkan orang-orang yang melakukan kejahatan dan berpikir hukuman apa yang pantas untuk mereka, langkah awal yang perlu kita lakukan adalah berani berkata &lt;strong&gt;tidak&lt;/strong&gt; untuk melakukan kejahatan-kejahatan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Seorang pujangga pernah mengatakan:&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="center"&gt;Keberanian bukan berarti tanpa rasa takut&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tetapi keyakinan bahwa suatu hal lebih penting dari rasa takut&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;Banyak hal yang lebih penting untuk bangsa ini, mari berjuang dan lawan kejahatan dengan melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Wujudkan Indonesia yang nyaman, aman dan menyenangkan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;AMIN&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-8109620728540857838?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8109620728540857838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8109620728540857838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2008/11/indonesia-dan-rasa-kebangsaan.html' title='Indonesia dan Rasa Kebangsaan'/><author><name>Leonard Mangunsong</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05913753780940874308</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_6Je77YNXRRI/SeFI6BqeiSI/AAAAAAAAAUo/BPxsHKKmRxM/S220/Leo1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-8125474791595915716</id><published>2008-11-03T04:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T04:25:31.594-08:00</updated><title type='text'>MENGENAL BAPAK SEJARAH : IBN KHALDUN</title><content type='html'>MENGENAL BAPAK SEJARAH: IBN KHALDUN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Memilih orang-orang Islam terkenal dalam berbagai macam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, bukanlah tugas yang ringan . Kenyataannya, sejumlah ilmuwan dan sarjana Islam memiliki pengetahuan ensiklopedi dan cita rasa yang mendalam, salah satunya adalah Ibn Khaldun.&lt;br /&gt;        Ibn Khaldun, seorang filsuf sejarah yang berbakat dan cendekiawan terbesar pada zamannya, salah seorang pemikir terkemuka yang pernah dilahirkan. Sebelum Khaldun, sejarah hanya berkisar pada pencatatan sederhana dari kejadian-kejadian tanpa ada pembedaan antara yang fakta dan hasil rekaan.&lt;br /&gt;          Sebagai pendiri ilmu pengetahuan sosiologi, Ibn Khaldun secara khas membedakan cara memperlakukan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan untuk mendukung kejadian-kejadian yang nyata. Seorang kritikus barat mengatakan, “Tak ada satu pun dalam perbendaharaan sastra Kristen dari masa Abad Pertengahan  yang pantas disejajarkan dengan sejarahnya Ibn Khaldun dan tak satu pun sejarah Kristen yang menulis sebuah versi dengan begitu gambling dan tepat mengenai agama Islam.”&lt;br /&gt;        Nenek moyang Ibn Khaldun berasal dari golongan Arab Yaman di Hadramaut, tapi ia dilahirkan di Tunis pada tanggal 27 Mei 1332 M. Di situlah keluarganya menetap setelah pindah dari Spanyol Moor. Khaldun secara aktif ambil bagian dalam kancah politik yang penuh intrik di kerajaan-kerajaan kecil di Afrika Utara. Secara bergantian dialaminya masa-masa&lt;br /&gt;menyenangkan dan masa pahit karena ulah penguasa, dan ada masa-masa pahit karena ulah penguasa, dan ada masa-masa di mana terpaksa ia bersembunyi di Granada yang jauh.    Semangat revolusionernya tumbuh karena kemuakan akan politik yang kotor Tunis. Di tempat itu ia menyelesaikan  Muqaddimah tahun 1377 M. Kemudian pindah ke Tunis untuk menyelesaikan karyanya yang monumental, Kitab al-I’har (Sejarah Dunia), dengan perolehan bahan-bahan dari perpustakaan kerajaan. Setelah menjalani hidup penuh petualangan di afrika Utara, pemikir  besar ini kemudian berlayar ke negeri Mesir tahun 1382 M.&lt;br /&gt;            Sebelum ia menginjakkan kaki di Mesir, ternyata karyanya sudah sampai terlebih dahulu di sana, karenanya ia disambut meriah oleh kalangan sastrawan di Kairo. Tidak lama kemudian, dating undangan untuk berceramah di Masjid Al-Azhar yang tersohor itu, lalu diterima oleh Raja Mesir. Tapi jabatan ini menimbulkan intrik dan persaingan di Istana sehingga terpaksa dilepaskan. Namun Raja mengangkatnya lagi sampai enam kali, meskipun kali ia harus lengser.&lt;br /&gt;            Di negerinya yang baru itu ibn Khaldun memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan Tamerlane (Timurlenk) setelah Syiria diserbu dan diadakan perjanjian perdamian dengan Raja Mesir. Timurlenk terkesan sekali, tokoh yang meninggal tahun 1406 M.&lt;br /&gt;Ibn Khaldun  telah memperoleh tempat tersendiri diantara para ahli filsafat-sejarah. Sebelum dia, sejarah hanyalah sekedar deretan peristiwa yang dicatat secara kasar tanpa membedakan mana yang fakta dan mana yang bukan fakta. Ibn Khaldun sangat menonjol diantara para sejarawan lainnya, karena memperlakukan sejarah sebagai ilmu, tidak sebagai dongeng. Dia menulis sejarah dengan metodenya yang baru untuk menerangkan, memberi alas an dan mengembangkan sebagai sebuah filsafat social. Ketika menerangkan tentang seni menulis sejarah, Ibn Khaldun berkata dalam bukunya Muqaddimah, “ Hanya dengan penelitian yang seksama  dan penerapan yang terjaga baik kita bisa menemukan kebenaran serta menjaga diri kita sendiri dari kekhilafan dan kesalahan. Kenyataannya, jika kita hanya ingin memuaskan diri kita dengan membuat reproduksi dari dari catatan yang diwariskan melalui adat istiadat atau tradisi tanpa mempertimbangkan aturan-aturan yang muncul karena pengalaman, prinsip-prinsip yang mendasardari seni memerintah, alam, kejadian-kejadian, dan budaya di suatu tempat ataupun hal-hal yang membentuk ciri masyarakat. Jika kita tidak mau membandingkan yang lalu dan saat ini, maka akan sulit bagi kita untuk menghindari kesalahan dan tersesat dari kebenaran.”&lt;br /&gt;            Sebagai pelopor sosiologi, sejarah, filsafat, dan ekonomi-politik, karyanya memiliki keaslian (keorisinilan) yang menakjubkan. “Kitab al-I’bar”  termasuk al-Taarif adalah buku sejarahnya yang monumental, berisi Muqaddimah serta otobiografinya. Bukunya dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertamanya ini terkenal dengan sebutan Muqaddimah. Bagian ini membicarakan perihal masyarakat, asal-usulnya, kedaulatan, lahirnya kota-kota dan desa-desa, perdagangan, cara orang mencari nafkah, dan ilmu pengetahuan. Bagian ini merupakan bagian pendahulunya. Akan tetapi Ibn Khaldun membicarakannya dengan bentuk-bentuk yang lebih logis buat teori-teorinya.&lt;br /&gt;          Pernyataan farabi mengenai asal-usul kota dan desa hanya merupakan teori belaka, sedangkan Ibn Khaldun melihatnya dari sudut pandangan sosial. Menurut Ibn Khaldun, ilmu pengetahuan al-Umran atau sosilogi hanya dibicarakan secara tidak mendalam dalam “politik”nya Aristoteles. Tulisan yang menarik dalam Muqaddimah adalah teori tentang Al-Asabiyah yang membicarakan perihal keningratan serta pengaruh-pengaruh garis keturunan diantara suku-suku normal.&lt;br /&gt;         Bagian ketiga, membicarakan negara dan kedaulatan serta merupakan isi terbaik dari buku ini. Dalam bagian ini di kemukakan teori-teori poltik yang maju, yang mempengaruhi karya-karya  para pemikir politik terkemuka sesudahnya, seperti Machiavelli dan Vico. Karya Machiavelli, Pangeran, yang ditulis ketika masa pergolakan di Italia, seratus tahun kemudian, mirip sekali dengan Muqqadimah. Professor Gumplowicz mengatakan, “Pada tingkat apapun, prioritas haruslah diberikan pada ahli sosiologi Arab ini, yakni yang berkenaan dengan pikiran yang diketengahkan Machiavelli kepada penguasa-penguasa dalam bukunya Pangeran, seratus tahun kemudian.”&lt;br /&gt;         Bagian kedua kitab al I’bar, terdiri dari empat jilid, yang kedua, ketiga, keempat dan kelima, membicarakan sejarah bahasa Arab dan bagian terbaik dari bukunya, dimana penulis sampai pada puncak kreativitasnya, meninjau subyek-subyek yang berbeda seperti ekonomi-politik, sosiologi dan sejarah secara orisinil dan memikat. Beberapa hal yang dibicarakan dalam Muqaddimah juga dibicarakan oleh dinasti-dinasti  pada masa itu, termasuk dinasti Syria, Persia, Saljuk, Turki, Yahudi, Yunani, Romawi dan Perancis.&lt;br /&gt;          Kitab al-I’bar ditutup dengan beberapa bab mengenai kehidupan si pengarang dan dikenal dengan nama al-Taarif (otobiografi). Ibn Khaldun adalah yang pertama kali menulis otobiografi yang panjang tetapi sistematik. Para pendaahulunya, seperti al-Khatib dan al-Suyuti menulis otobiografinya secara pendek, bersifat formal dan hambar.&lt;br /&gt;Baru pada abad ke-19, setelah buku-bukunya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, baru memberi kemungkinan kepada orang Barat untuk mengakui kebesaran sejarawan ini dan menghargai orisinalitas pikiran-pikirannya.&lt;br /&gt;       Dengan demikian, Barat yang “dibuka” sangatlah berhutang budi pada orang Tunisia yang cendikiawan ini, karena bimbingan yang diberikannya dalam bidang sosiologi itu. Juga ekonomi serta sejarah telah membuka jalan bagi perkembangan berikutnya dari ilmu-ilmu tersebut.&lt;br /&gt;(dari berbagai sumber: AK)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-8125474791595915716?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8125474791595915716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/8125474791595915716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2008/11/mengenal-bapak-sejarah-ibn-khaldun.html' title='MENGENAL BAPAK SEJARAH : IBN KHALDUN'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1237528900953829118.post-1326270538238610663</id><published>2008-08-08T00:59:00.000-07:00</published><updated>2008-08-08T01:03:24.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>RABIAH DAN TANGISAN DOA</title><content type='html'>Suatu hari, Sufyan Tsauri datang kepada Rabiah.&lt;br /&gt;Di depan dirinya, Sufyan mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Tuhan Yang Maha Kuasa, saya memohon harta duniawi dari Mu”.&lt;br /&gt;Mendengar doa itu, Rabiah kontak menangis. Ditanya mengapa dirinya menangis, rabiah menjawab, “Harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya di dunia saja”&lt;br /&gt;            Sementara itu, disaat lain, terbentuk kabar seseorang mengirim uang 40 Dinar kepada Rabiah. Ia menangis dan menengadahkan tangannya ke atas, “Engkau tahu  ya Allah, aku tak pernah meminta harta  dunia dari Mu, sekalipun Kaulah pencipta dunia ini. Lantas bagaimana aku menerima uang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya?”&lt;br /&gt;            Tak hanya bagaimana kerendahan dan ketakberdayaan seorang hamba ia tunjukkan dihadapan Tuhannya, Rabiah juga senantiasa mengajarkan sifat dan sikap kerendah-hatian dan tawadhu kepada murid-muridnya. Ia juga melarang para muridnya itu menunjukkan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Bahkan Rabiah meminta murid-muridnya itu untuk menyembunyikan perbuatan jahat mereka. Bagi Rabiah, segala penyakit dilihatnya sebagai cobaan yang datang dari Allah. Terhadap masalah ini Rabiah selalu memikul setiap cobaan yang datang itu dengan penuh tabah  dan penuh kesabaran. Rasa sakit yang dasyat sekalipun, tidak pernah mengganggunya dari perhatian dan pengabdiannya kepada Tuhannya, bahkan sering ia tidak menyadari ada bagian tubuhnya terluka sampai ia diberitahu orang lain. Suatu saat, misalnya kepalanya terbentur batang pohon hingga berdarah. Seseorang yang melihat darah bercucuran itu, dengan hati-hati bertanya.”Apakah  anda tidak merasa sakit?” “aku dengan segala raguku mengabdi kepada Allah SWT. Aku berhubungan erat denganNya, aku disibukkanNya dengan  hal-hal daripada hal-hal yang pada umumnya kalian rasakan,” jawab Rabiah.&lt;br /&gt;            Sekalipun penuh liku, banyak kalangan mengakui kehidupan Rabiah tak sedikit menyisakan keajaiban, yakni keajaiban milik orang-orang  suci. Rabiah misalnya, mendapatkan makanan dari tamu-tamunya dengan cara yang aneh-aneh. Disebutkan, ketika Rabiah menghadapi maut, ia minta kepada teman-temannya untuk meninggalkan Rabiah lalu mempersilahkan  para utusan Allah untuk lewat . ketika teman-teman Rabiah keluar itu, mereka mendengar Rabiah mengucapkan syahadat, lantas mendengar suara menjawab, “Sukma, tenanglah kembalilah kepada TuhanMu, legakan hatimu kepadaNya. Ini akan memberikan kepuasan kepadaNya. Dalam batas yang ada, Rabiah adalah “hidup” dan senantiasa akan terus “hidup” melalui pekerti ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga !&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1237528900953829118-1326270538238610663?l=asengkosasih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/1326270538238610663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1237528900953829118/posts/default/1326270538238610663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://asengkosasih.blogspot.com/2008/08/rabiah-dan-tangisan-doa.html' title='RABIAH DAN TANGISAN DOA'/><author><name>Aseng Kosasih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-0DsvvbdMK4w/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAASo/ODkBl4sWVTk/s512-c/photo.jpg'/></author></entry></feed>
